Thursday, April 14, 2016

Ironi Anak Jalanan*

Entah berapa banyak anak di bawah umur yang berkeliaran di jalanan untuk meminta uluran tangan orang-orang yang melewatinya. Berbekal wadah permen bekas atau gelas plastik air mineral bekas dan suara, mereka menggantungkan nasib di jalanan kota-kota besar. Anak yang semestinya berada di bangku sekolah, menyimak pelajaran di sekolah-sekolah justru harus turut membanting tulang untuk keluarga. Yanti, seorang anak usia 14 tahun yang mengaku bahwa dirinya diajak oleh ibu dan bapaknya untuk mengamen di jalanan, ia dan adiknya kerap dipaksa untuk mengamen dan diawasi oleh kedua orang tuanya dari kejauhan. Ia mengaku bahwa ia bekerja untuk makan sehari-hari keluarganya (liputan6.com, 17/02/2016).  Hal ini seperti halnya fenomena gunung es, satu contoh kasus dari sekian banyak kasus eksploitasi dan penelantaran yang dialami oleh anak Indonesia yang belum dapat terekspos oleh media.    
Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa data jumlah anak terlantar di Indonesia mencapai 4,1 juta anak. Jumlah ini jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia usia kanak-kanak yang berjumlah 67 juta orang, data tersebut menunjukkan bahwa 1 dari 6 anak Indonesia adalah anak terlantar. Ditambah lagi, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyebutkan sekitar 18 ribu anak Indonesia tereksploitasi. Data dari Kementrian Sosial RI juga didapati bahwa terdapat kasus eksploitasi anak sebanyak 35 ribu anak. Dari jumlah tersebut, tidak sedikit yang akhirnya terjerumus dalam aktivitas mengkonsumsi napza. Kementrian Sosial RI mencatat jumlah anak jalanan yang menjadi korban penyalahgunaan napza dari lem aibon mencapai 70 persen (detik.com, 05/03/2016). Sungguh ironi, negeri yang kuat lagi kaya dan memiliki banyak potensi sumber daya, justru kesulitan memenuhi kebutuhan anak-anak negerinya. Anak yang seharusnya mendapatkan fasilitas layanan pendidikan yang terjangkau, justru sebaliknya karena keterbatasan memperoleh pendidikan serta tidak terpenuhinya kebutuhan di rumah menjadikan anak lebih memilih ikut mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hal ini terjadi, lantaran tuntutan hidup secara ekonomi yang akhirnya mendorong banyak anak terpaksa bahkan dipaksa secara mental untuk bertanggung jawab atas pekerjaannya dan tak lagi ingin memikirkan cita-cita atau target hidupnya di masa yang akan datang. Seperti yang diungkap oleh Psikolog Efnie Indrianie, M.Psi., bahwa anak jalanan terbiasa hidup dan kerja Easy Money, yang membentuk anak secara tidak langsung mereka hanya memikirkan keberlangsungan hidupnya dan keluarganya (liputan6.com, 17/02/2016).
Menyikapi permasalahan ini, Kemensos mendorong pemerintah daerah untuk memiliki Safe House atau Shelter bagi anak-anak jalanan dan terlantar. Kini, Safe House atau Shelter itu baru terdapat di 6 kota di Indonesia. Kebijakan ini datang setelah sebelumnya telah ditetapkan kebijakan Kota Layak Anak (mediaindonesia.com, 04/04/2016). Harapannya dengan beberapa upaya tersebut mampu menjadi problem solver pada masalah meningkatnya jumlah anak jalanan dan terlantar. Namun jika menegok lebih dalam, permasalahan anak jalanan dan terlantar tentu tak dapat terpisah dari kondisi sosial dan ekonomi yang ada di negeri ini. Sebagian besar anak-anak yang memilih untuk meninggalkan bangku sekolah lalu ikut mencari uang untuk keluarganya adalah mereka yang merasa belum tercukupi kebutuhan hidupnya. Biaya bahan pokok makanan yang serba tinggi menyebabkan mereka kesulitan mengkonsumsi makanan yang layak, keterbatasan memenuhi fasilitas penunjang pendidikan seperti tas, sepatu, buku tambahan, atau bahkan biaya untuk dapat turut duduk dibangku sekolah pun menjadi penghambat keinginan mereka untuk lanjut sekolah, belum lagi tuntutan life style yang ada di masyarakat saat ini mencetak psikologis anak yang tidak mampu berkonformitas dengan teman sebayanya akan terbebani dengan rasa inferior yang dampaknya muncul rasa minder atau tidak percaya diri ketika bersama dengan teman-teman di sekolah. Hal ini merupakan beberapa faktor dari sekian banyak faktor lainnya yang dapat mendorong anak lebih memilih meninggalkan bangku sekolah untuk turut serta mencari uang agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
Upaya memberi solusi pada permasalahan anak jalanan dan terlantar tidak dapat dilihat dari satu aspek bidang kehidupan, namun perlu upaya perbaikan yang interdisipliner. Solusi yang diberikan haruslah  menyeluruh dan komprehensif yang dapat menyentuh seluruh bidang kehidupan anak, solusi itu diantaranya dapat berupa lingkungan sosial yang kondusif, kebutuhan ekonomi yang tercukupi, fasilitas pendidikan yang terjangkau, keamanan yang terjamin hingga adanya kebijakan politik yang mendukung. Bentuk solusi yang mencakup seluruh bidang kehidupan seperti inilah yang diharapkan mampu mengatasi masalah jalanan dan terlantar hingga ke akar-akarnya. Dan kita meyakini, bahwa negeri ini sejatinya mampu mewujudkannya. 

*) Dikirimkan kepada salah satu surat kabar harian kota Solo pada 11 April 2016.

Tuesday, December 31, 2013

Tuesday, October 22, 2013

Biri-Biri (Hikmah #1)

Malam senin, 13 Oktober 2013 telah lahir dua anak biri-biri. Di temukan keduanya dilahirkan di kandang yang ada di pekarangan rumah mbah saya. Mereka pun diusung keluar dari kandang dengan maksud mempersilahkan sang induk menyusui anak bayinya dengan leluasa. Setelah dibiarkan di luar kandang, entah mengapa induk justru terkesan tak perduli dengan kedua anaknya. Ia sibuk mencari rumput-rumput untuk dimakannya sendiri. ia beralih pergi meninggalkan anak dan sibuk dengan urusannya sendiri.


Mbah saya terus memaksa sang induk untuk diam, mulai dari tali hingga segala peralatan dikerahkannya untuk menjaga induk diam pada satu tempat dan bersedia menyusui anaknya. Namun, usaha itu tak banyak membuahkan hasil, sang induk justru semakin sibuk dengan 'kepentingannya'.

Selidik punya selidik, setelah di periksa oleh mbah saya, ternyata induk biri-biri tidak mengeluarkan air susu yang dibutuhkan kedua anaknya. Entah mengapa, saya agak bingung dengan fenomena ini, sepengetahuan saya induk mamalia ketika bereproduksi (hamil dan melahirkan) tentu memiliki kelenjar yang juga merangsang air susu untuk keluar yang bermanfaat penting untuk kepentingan si bayi.

Sang bayi terus menanti air susu. Ia terus berharap mendapatkan susu yang dibutuhkannya, dengan kondisi fisik yang lemah bahkan berdiri pun tak mampu. Akhir cerita, mbah saya membelikan susu bendera yang dimasukkan kedalam dot susu bayi. Dot susu ini cukup bermanfaat tampaknya, terbukti di pagi harinya ia tak lagi tampak seperti semalam, sang anak telah mampu berdiri tegak dan lincah bergerak di pekarangan rumah mbah. Alhamdulillah.

Namun ternyata, Allah mengatur jalan yang berbeda di siang harinya.. kedua anak tak dapat bertahan lama dengan ketiadaan asupan air susu induknya. kedua bayi wafat di pekarangan rumah mbah saya.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah diatas adalah bukti betapa lemah dan terbatasnya makhluk ciptaan. Ketika manusia dilahirkan, Allah tetunya sudah mengatur segala kebutuhannya dengan amat teratur. tak akan mampu manusia mengusahakan apapun tanpa pertolonganNya.



Peristiwa yang dialami sang bayi biri-biri sama halnya terjadi, dihari kelahiran manusia, dengan segala kelemahan yang dimilikinya. Tak akan mampu ia menentukan sendiri asupan nutrisi pertama yang dikonsumsinya. Hal ini menunjukkan betapa lemahnya manusia, jika bukan atas kehendak Allah agar kita mampu untuk bertahan, kita tak akan mampu mengusahakan sesuatu pun.

Renungan untuk kita semua, bahwa tak ada yang dapat dibanggakan dari yang kita miliki sekarang. Karena pada hakikatnya, bahkan kita mampu menjalani kehidupan hingga detik ini pun hanya atas izin dan pertolonganNya. Sebagai manusia tentunya tak bisa lepas dari salah dan khilaf, bahkan mungkin tanpa sadar muncul rasa bangga akan apa yang dimiliki atau dicapainya hingga saat ini. Mungkin hadits dibawah ini dapat menjadi pengingat dikala rasa seperti itu tanpa sadar muncul dan mengotori setiap keikhlasan dan ketulusan. 


لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ


Tidak akan masuk Surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar atom. (HR Muslim, Ahmad dan Tirmidzi) 

serta hadits qudsi dibawah mungkin dapat menjadi cambuk yang senantiasa mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga hati dari kesombongan, 


لْعَظَمَةُ إِزَارِيْ وَالْكِبْرِيَآءُ رِدَآئِيْ فَمَنْ نَازَعَنِيْ فِيْهِمَا قَصَمْتُهُ


Keagungan adalah selimut-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku, barang siapa menentang-Ku dalam keduanya, maka akan Kubinasan dia. (HR Hakim) 

Serta kita di ingatkan untuk senantiasa siap membuka diri dalam menerima kebaikkan yang datang kepada kita,


“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)

Wallahua'lam Bi Showab.

Materi FKAM bulan Oktober 2013

Oktober 2013.

Jika membahas Pemuda, Seorang pemuda identik dengan stereotip seorang yang penuh semangat, kritis, beridealisme tinggi, bahkan dengan kemampuannya mampu menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan. Dapat kita saksikan fakta sejarah membuktikan, bahwa pemuda telah berhasil menggerakkan masyarakat untuk mengganti sistem orde lama, pemuda yang menggerakkan masyarakat untuk melakukan reformasi, pernah pula kita mendengar kisah seorang pemuda yang telah menjadi panglima perang di umur belianya yang kemudian mampu merobohkan benteng kokoh konstatinopel, atau bahkan kisah tentang seorang pemuda yang telah mampu menaklukkan musuh di berbagai peperangan yang dipimpinnya yang juga ia lakukan di usia belia.

Namun, kita mampu menyaksikan fakta pemuda saat ini. Pemuda yang apatis dengan masalah lingkungan yang ada, tak memungkiri banyak dari kita mungkin seringkali cuek dengan lingkungan disekeliling kita, jangankan masalah negara, masalah yang terjadi dikos-an atau di rumah sendiri saja tidak kita ketahui lantaran tugas menumpuk atau sibuk dengan aktivitas kita masing-masing. Berapa banyak pemuda yang faham benar dan mau mengkritisi isu terbaru yang ada, contohnya isu ketahanan pangan, tak banyak yang merasa perlu membahas tentang ini dengan alasan kesibukan individu yang tak memberikan celah  kesempatan untuk turut memikirkannya, atau bahkan merasa bukan dalam kapasitasnya untuk melakukan kritisasi.

Fakta pemuda yang banyak pula kita temui sekarang adalah pemuda yang tidak punya landasan, kemanapun arah lingkungan ia akan mengikuti. Ada model fashion baru, ia ikuti. Ada trend artis luar negeri terbaru pun ia ikuti. Pemuda menjadi seperti tidak memiliki landasan yang jelas, Tak ada lagi idealism yang tertanam dalam dirinya. Yang ada hanya membebek pada budaya atau trend terbaru dan menjadi berbaur bersama dengan budaya lingkungan yang ada.

Sebenarnya, tak semua pemuda seperti itu ada pula pemuda yang kritis dan tajam dalam analisa masalah lingkungan. Yang mampu dengan sigap merespon kebijakan-kebijakan pemerintahan yang di tetapkan. Karena kekritisannya muncullah gerakkan-gerakkan mahasiswa yang turun mengadakan aksi –aksi sosial dilingkungannya baik berupa aksi mengkritisi kebijakkan pemerintah, aksi bakti sosial, aksi dukungan kepada lembaga pemberantas pelanggaran hukum (ex ; KPK), dan berbagai macam respon lainnya yang kesemuanya timbul karna kekritisannya. Namun kekritisan ini tak dibarengi dengan solusi yang solutif. Pemuda mengkritisi tanpa banyak memberikan solusi, jikalaupun ada itu bersifat pragmatis bahkan cenderung merusak. Seperti dapat kita saksikan, berapa banyak aksi pemuda yang justru melakukkan anarkisme di jalanan atau pun kegiatan-kegiatan seperti meblokade jalan atau fasilitas umum.

Diatas secuil fakta akan kondisi pemuda saat ini. Pemuda yang secara otomatis akan meneruskan perjuangan generasi diatasnya, agen perubah yang bertugas mengarahkan perubahan lingkungan kearah perubahan yang tepat. Pemuda sebagai penggerak yang berada ditengah-tengah masyarakat yang akan terus mengobarkan semangat perbaikkan.

Berdasarkan hasil analisa mengenai fakta pemuda, terdapat beberapa penyebab yang melahirkan fakta-fakta yang tampak diatas, diataranya terdapat sebab yang paling mendasar ialah bergesernya makna pendidikan pada orang tua. Mengacu kepada fakta yang ada, tuntutan pendidikan yang diberikan kepada anak adalah tuntutan yang berbasis hasil dengan mengedepankan keuntungan materi. Dalam artian, ketika anak di tuntun untuk mengenyam bangku pendidikan tujuan puncaknya adalah mendapat pekerjaan yang memuaskan, pekerjaan yang mapan yang kemudian akan memenuhi kebutuhan secara berkecukupan hingga dapat memberi keuntungan berupa status ekonomi yang mapan.

Hal diatas diperkuat oleh adanya pengaruh globalisasi yang tidak terfilter. Globalisasi seperti dua sisi mata uang, satu sisinya memiliki dampak positif disisi lain globalisasi memiliki dampak negative yang tidak sedikit. Kegagalan memfilter pengaruh ini menuntun generasi menjadi generasi yang mudah terpengaruh oleh budaya sekitar, pemuda tak banyak dapat memilah sehingga apapun budaya yang masuk dengan mudahnya diterima dan diikuti. Ini merupakan penyebab penting karena dengan kegagalan memfilter ini pengrusakan moral pemuda akan dengan mudah mencapai keberhasilannya.

Bercokolnya pengaruh diatas, semakin diperkuat oleh penyebab yang amat mendasar yaitu kurang kokohnya pondasi mental generasi muda.  Dengan ketiadaan pondasi mental yang kuat, pemuda akan dengan mudah goyah laksana bangunan dengan pondasi bangunan yang tak kokoh. Pondasi ini berupa keteguhannya pada sebuah ideology yang diembannnya. Ideology ini nantinya yang akan menguatkan pemuda untuk kokoh menerjang batas dan kebiasaan orang-orang disekelilingnya. Ketiadaan ideology atau landasan membuat individu bimbang tak tentu arah, karna ia tak lagi memiliki standar baik dan buruk yang tetap dan kokoh.

Menyaksikan fakta permasalahan dan menganalisa sebab yang terjadi ini, amat sangat perlu kita menemukan solusi. Solusi yang tidak pragmatis serta solusi yang menyeluruh, menyeluruh menyelesaikan masalah akar yang telah menjadi penyebab munculnya berbagai masalah cabang diatasnya.

Solusi berupa penguatan ideology, tentunya seorang pemuda haruslah berpegang teguh pada suatu ideology yang darinya pemuda akan melandasi setiap perilaku dan menyeleksi setiap pengaruh yang datang kepadanya. Pemuda muslim tentunya haruslah mendasari setiap perbuatannya pada ideology islam, yang mana hanya dengan standar yang lahir dari islam pemuda akan mampu memfilter serangan-serangan kerusakan budaya yang datang dari luar dirinya.

Dengan perbaikkan ideology ini, akan terbangun pula kepekaan sosial pada diri pemuda muslim. Kepekaan akan ini lahir ketika terjadi benturan antara ideology yang dimilikinya dengan fakta sosial yang ia temui dilingkungan sekelilingnya. Dari perbaikkan ideology ini akan mendorong pemuda muslim untuk sadar akan keadaan lingkungan, kembali membangun visi dan mengintegrasi geraknya mengarah kepada kebangkitan. Perbaikkan ini pun akan menuntun gerakan-gerakan pemuda untuk bergerak pada arah yang benar sesuai dengan ideology yang dimilikinya.

Selain itu tak hanya perbaikkan ideology, hal yang paling utama adalah perubahan sistem. Tentunya sebagai seorang muslim yang sadar akan keislamannya, sistem yang seharusnya diterapkan adalah sistem islam. Dimana sistem islam, akan mempu menjaga kekokohan ideology bahkan memberikan wadah bagi pemuda untuk mampu menstandar setiap perbuatannya pada islam dengan perlindungan secara total. Karena bagaimana pun individu amat dipengaruhi oleh lingkungan disekelilingnya. Lingkungan yang menyediakan tempat untuk mengaplikasikan ideology yang dimiliki pemuda. Tak hanya itu, sistem dalam lingkungan pun akan menjaga pemuda untuk senantiasa kokoh dalam mengemban ideology yang dimilikinya. Karena, akan sia-sia mengusahakan perubahan individu tanpa perbaikkan sistem lingkungan.  

Dapat kita simpulkan hasil diskusi adalah kembali membangkitkan pemuda muslim dengan kekuatan perubahan sistem. mengganti sistem yang tidak berasal dari islam menjadi sistem yang benar, yaitu sistem islam. Karena hanya dengan perubahan sistem secara totalah, perubahan serta arah kebangkitan bangsa akan mencapai keberhasilannya. Wallahua’lam Bi Showab.


    



FKAM (Forum Komunikasi Aktivis Muslimah) Solo #1

Ahad,  20 Oktober 2013.

Ahad minggu kedua bulan Oktober, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Chapter Kampus Solo Raya mengadakan Diskusi terbuka, dalam bentuk acara Forum Komunikasi Aktivis Muslimah (FKAM) yang berlokasi Lembah Teknik UNS.  Acara dihadiri oleh sedikitnya 30 Mahasiswi gabungan kampus-kampus se-Solo Raya, diantaranya UNS, ISI, UNIBA, USB, UMS, Poltekkes Kemenkes, dan IAIN Surakarta.

Acara yang rutin diadakan satu bulan sekali ini merupakan ajang diskusi terbuka antar aktivis mahasiswi seputar  isu-isu terkait dunia perkuliahan, pendidikan, sosial, ekonomi hingga perpolitikan. Acara mengungkap mengenai fakta terkini masyarakat, menganalisis penyebab yang melatarbelakangi fakta lalu menggali solusi permasalahan yang dapat diberikan. Penggalian solusi tentunya tak pernah lepas dari peran Islam sebagai sumber, yaitu sumber dari segala hukum yang akan menyelesaikan setiap permasalahan.


FKAM bulan Oktober ini mengangkat tema tentang PEMUDA dengan Judul “Pemuda Merajut Masa Depan Gemilang dengan Khilafah”. Peserta antusias mengikuti jalannya acara diskusi. 

Diawali dengan materi dari pemantik acara, pemaparan fakta kondisi pemuda yang didapati saat ini. peserta turut serta bersama mengajukan pendapatnya.

"Beberapa apatis, ketika saya ajak menghadiri acara diskusi tentang kondisi masyarakat sekarang banyak yang lebih memilih untuk mengisi liburan dengan jalan-jalan atau menolak dengan dalih sibuk mengerjakan tugas kuliah" ucap salah seorang mahasiswi Institut Seni Indonesia. Disusul pendapat dari mahasiswi Institut Agama Islam Negeri Surakarta, ia berkata, "memang tak semua pemuda apatis, sebagian telah peka dan peduli dengan keadaan lingkungannya hingga lahirlah organisasi-organisasi kepemudaan atau gerakan-gerakan mahasiswa yang bergerak dengan tujuan mengubah kondisi, namun pada faktanya tak banyak yang merealisasikan semangatnya, kesadaran ini hanya sebatas visi tanpa realisasi, proker dibuat hanya sekedar program tapi pelaksanaanya tak banyak mengarahkan perubahan".

Diskusi dilanjutkan dengan analisis masalah, dan ditemukan akar masalah adalah sistem rusak yang diterapkanlah yang menjadikan pemuda tak lagi mau kritis dan peka dengan keadaan lingkungannya. Atau jikalau pun ada yang peka dan berusaha memberi solusi, solusi yang diberikan merupakan solusi yang pragmatis, tampak pada aksi-aksi yang banyak malah mengarah pada aksi merusak fasilitas umum.

Acara ditutup dengan analisis solusi dari pemantik dan dilanjutkan oleh opini-opini peserta. dapat disimpulkan, solusi yang di dapat adalah kesadaran akan pentingnya merubah sistem. karena hanya dengan sistem yang benarlah bangsa akan berhasil bangkit dan berubah. Hanya dengan sistem yang benar, Sistem Islam.!


Monday, October 7, 2013

POTENSI MANUSIA #2

Melanjutkan Pembahasan tentang dua potensi manusia. Keduanya memiliki sumber kemunculannya :

Hajatul Udhawiyah atau Kebutuhan Jasmani muncul karena dorongan dalam diri manusia, dorongan ini dimunculkan oleh faktor internal diri manusia. Kebutuhan jasmani lahir secara alamiah, dan tidak dapat dibatasi kemunculannya. Sedangkan Gharizah atau naluri muncul dari dorongan eksternal diri manusia. Naluri merupakan bentuk respon dari stimulus yang diberikan lingkungan kepada diri seseorang. Stimulus yang ditangkap melalui penglihatan, pendengaran, penciuman atau faktor yang dapat menangkap rangsangan dari luar diri manusia.  

Membahas mengenai keduanya adalah hal yang mendasar, karna pada dasarnya setiap manusia pasti memiliki kedua potensi ini, walaupun mungkin intensitasnya yang berbeda-beda. Potensi dasar manusia inilah yang kemudian melahirkan banyak tuntutan pemenuhan. Manusia memerlukan usaha untuk memenuhi keduanya.  

Pembahasan dilanjutkan pada, seberapa mampu keduanya dihindari pemenuhannya. tentang pemenuhan potensi ini, maka kita akan berhubungan pada sumber-sumber muncul keduanya. setelah kita fahami kedua sumber tadi, maka kita mampu memetakan mana konteks yang harus dipenuhi dan mana yang tidak.

Kebutuhan jasmani (Hajatul Udhawiyah) yang bersumber dari dalam diri, atau lahir dari faktor internal diri merupakan sesuatu yang harus di penuhi. Kebutuhan jasmani seperti makan, minum, tidur, buang air, dan lain sebagainya. Potensi ini amatlah penting di selesaikan pemenuhannya, karena ketika ia tidak terpenuhi akan menyebabkan banyak gangguan dalam diri manusia dapat berupa sakit, kerusakan fungsi tubuh, bahkan berpeluang menyebabkan kematian. 

Potensi diri berupa Naluri (Gharizah) yang bersumber dari luar diri, atau lahir dari faktor eksternal merupakan sesuatu yang masih dapat diarahkan atau ditunda tuntutan pemenuhannya. Naluri berupa keinginan untuk mengesakan sesuatu, mempertahankan ego diri, hingga naluri untuk mempertahankan jenis. Naluri dapat muncul ketika seseorang mendapatkan stimulus dari luar diri individu. sehingga dalam menunda pemenuhannya juga berkaitan dengan menghindarkan segala bentuk stimulus yang merangsang kemunculannya.

Membahas mengenai tata cara pemenuhannya,,, akan dilanjutkan pada pembahasan selanjutnya... ^^



Sunday, October 6, 2013

Kajian Muslimah

Hari ini, Minggu, tanggal 6 Oktober 2013... Bertempat di Wisma Generasi Pembebas, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Chapter Kampus Surakarta mengadakan agenda Kajian Muslimah yang bertajuk tema: "Menjadi Mahasiswa Multitalenta"

Acara akan dihadiri oleh delegasi kampus-kampus daerah timur Kota Surakarta (UNS, USB dan ISI)... Di mulai sejak pukul 07.00 wib, Wisma Generasi Pembebas telah disiapkan untuk menerima tamu undangan.

Pukul 08.15 wib, Peserta mulai memenuhii Ruangan, berkumpul semata karena keinginannya menimba ilmu Islam..


Pukul 08.30 wib, Acara pun dimulai.. Setelah sebelumnya diawali dengan pembukaan oleh MC dan pembacaan tilawatil Qur'an.. Pemateri 1 mulai memaparkan fakta kekinian tentang mindset umum apa yang disebut dengan remaja multitalenta? Pemateri memaparkan materi dengan mengungkap fakta hingga menganalisa masalah kekinian mahasiswa...

Masih dilanjutkan oleh pemaparan materi kedua... yang kemudian mengungkap solusi bagaimana strategi ampuh untuk menjadi mahasiswa multitalenta dalam arti yang sebenarnya.. pemateri kedua pun mengajak peserta untuk turut ikut mengkaji Islam, karena di dapatilah bahwa hanya dengan memegang teguh islam, mahasiswa mampu mewujudkan perannya sebagai generasi penerus yang multitalenta. Hanya dengan islam.!

Sekilas berita acara hari ini, semoga serangkaian acara ini memberikan banyak kontribusi dan manfaat untuk turut serta dalam upaya, mencetak generasi-generasi cemerlang, kuat dalam berpegang teguh pada agamanya, serta ber-Multitalenta (dalam arti yang sebenarnya), ^^



Friday, October 4, 2013

Kekuatan Aqidah

Mengapa ada sebagian orang menyatakan dirinya beriman kepada Allah swt, namun tak membuatnya kuat dalam setiap aktivitasnya, seperti malas mendirikan shalat atau tidak mau membayar zakat? 
Mengapa ada sebagian orang yang menyatakan dirinya beragama islam, namun tak siap melaksanakan aturan yang ada di dalamnya, seperti berhijab, perkara riba, bahkan kewajiban berdakwah?
Mengapa ada sebagian orang yang menyatakan dirinya meyakini al qur'an, namun tak mau melaksanakan secara menyeluruh apa-apa yang ada di dalamnya, seperti menyiapkan pemimpin yang dapat ditaati?

Di sisi lain, kita mampu mendapati, kisah sahabat-sahabat rasul termasuk khulafaur rasyidin, masa tabi'in, serta tabiat tabi'in, mereka unggul dengan keimanannnya. Hingga Rasulullah menyebutnya sebagai generasi terbaik, 

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabiu’t tabi’in)” (Hadits Bukhari & Muslim)  

Mereka unggul dalam berbagai bidang, dapat kita temukan bidang kajian keilmuwan yang dikuasainya telah meliputi banyak bidang, dari filsafat, matematika, astronomi, geografi, sejarah, sastra, sosiologi hingga ilmu jiwa . 

Mengapa demikian? Mengapa dapat tercetak dua generasi yang memiliki kekuatan (aqidah) yang sama namun dengan hasil yang berbeda. Jawabannya adalah pada seberapa kekuatan tadi mampu mengarahkan tindakan individu di dalamnya. 

Tingkah laku, diarahkan oleh pemahaman yang terdapat dalam diri seseorang. Ketika pemahaman yang kita miliki adalah mencintai sesuatu, maka tingkah laku yang ditampakkan pun akan sama seperti pemahamannya, ia akan melakukan kebaikkan untuk sesuatu yang dicintainya. Tingkah laku ini, akan sangat berbeda dengan tingkah laku yang ditampakkannya pada orang yang dibenci.

Generasi muslim, akan kuat ketika pemahaman yang dimilikinya telah terbentuk dari aqidah yang benar. Aqidah yang melahirkan pemikiran menyeluruh mengenai alam, manusia dan kehidupan. Serta apa-apa yang ada pada sebelum dan setelah kehidupan. Pemikiran yang menyeluruh ini akan melahirkan pola pikir yang benar akan keterkaitan tingkah laku manusia dengan masa sebelum dan setelah kehidupan.

Pemikiran ini akan menuntun manusia untuk berfikir bahwa manusia memiliki tugas penting dalam kehidupan, Yang pada akhirnya akan lahir dari kesadarannya akan adanya penciptaan pada masa sebelum kehidupan dan adanya perhitungan pada masa setelah kehidupan. Adanya kesadaran akan tangggung jawab ini yang kemudian menuntun manusia untuk kuat dalam keimanannya. menyadari akakn beratnya tanggungjawab dan kewajiban akan kesungguhan melaksanakan setiap tugas yang di embannya dalam kehidupan.

Inilah dasar, yang kemudian dapat mengarahkan manusia pada tingkah laku yang benar. menjadi kuat dengan segala pemahaman yang dimilikinya. Kekuatan aqidah inilah yang akan melahirkan generasi-generasi cemerlang. Wallahua'lam bi Showab.  

Sumber : Peraturan Hidup dalam Islam Karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani

Saturday, September 28, 2013

POTENSI MANUSIA #1

Manusia memiliki dua potensi kebutuhan dalam dirinya, yaitu naluri (Gharizah) dan kebutuhan jasmani (Hajatul Udhawiyah). Kedua unsur menuntut untuk dapat dipenuhi. Sebenarnya tujuan mendasar dari setiap aktivitas yang dilakukan manusia adalah untuk memenuhi keduanya. 

Naluri yang dimiliki manusia terdiri dari 3 unsur atau bagian, diantaranya : 
1. Naluri mempertahankan diri (Gharizah Baqa')
2. Naluri mengEsakan sesuatu (Gharizah Tadayun)
3. Naluri  mempertahankan jenis (Gharizah Nau')
ketiganya memerlukan pemenuhan yang jika tidak terpenuhi tentunya memiliki konsekuensi baik berupa kegelisahan, Gangguan pada fisik dan psikis, dan lain sebagainya.

Kebutuhan jasmani yang dimiliki manusia dapat berupa kebutuhan akan makan, minum, dan istirahat. Amat penting memenuhi kebutuhan jasmani, ketidak siapan dalam pemenuhan akan mengakibatkan kerusakan fungsi tubuh bahkan kematian.

Kedua unsur memiliki sumber munculnya masing-masing... 

Penjelasan bersambung di tulisan berikutnya. :)